0

Tema #14DaysofInspiration

Tema tulisan hari pertama adalah:

Trust (Percaya)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari kedua adalah:

Courage (Keberanian)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari ketiga adalah:

Patience (Kesabaran)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari keempat adalah:

Respect (Hormat)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari kelima adalah:

Happiness (Kebahagiaan)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari keenam adalah:

Generosity (Keramah-tamahan, Kemurah-hatian)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

.

Tema tulisan hari ketujuh adalah:

Forgiveness (Ampunan)

Untuk memudahkan yang lain membaca dan melihat cerita inspiratif yang kamu buat, klik image yang ada di bawah ini, setelah halaman baru dari linknya muncul, tuliskan namamu, setelah itu add link dari post yang kamu buat.

Agar yang lain bisa tahu siapa saja yang sudah menulis untuk tema hari ini. Jangan lupa mention link tulisanmu ke @WordsofPoetica dan @Lovaboration.

So guys, let’s write and inspire! Have fun!

Advertisements
5

Proyek #14DaysofInspiration

Untuk kurun waktu yang cukup lama, banyak yang meyakini dan mengamini bahwa satu karya sastra yang membekas dan meninggalkan kesan, biasanya tak pernah terlepas dari nilai-nilai moral atau amanat yang terkandung di dalamnya. Ada ‘pesan’ yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Ada ‘maksud’ tertentu yang ingin coba dibagikan kepada pembaca.

Namun ternyata, seiring waktu, beberapa mulai seakan-akan menjauhi ‘amanat’ sebagai bagian penting dari sebuah tulisan. Lalu yang muncul adalah serentetan kalimat puitis nan manis, namun terkadang tak bermakna dan juga tak meninggalkan kesan apa-apa setelah kita membacanya. Itu mungkin terjadi karena ketakutan kita, karena takut cerita yang kita buat menjadi ‘membosankan’ dan cenderung ‘menggurui’ pembaca kita.

Berdasar atas alasan itu, kami akan mengajak kalian semua untuk mencoba, dan juga menantang kemampuan kalian dalam menulis cerita inspiratif. Cerita yang jelas-jelas sudah kita siapkan ‘amanat’ di dalamnya, baik nantinya kita bagikan itu secara langsung atau tidak langsung dalam cerita yang kita buat. Ayo ikut bereksplorasi dengan tema dan kemasan tulisan yang berbeda. Kita akan belajar, berbagi dan menulis cerita inspiratif bersama-sama. Bagaimana agar bisa ikut menulis bersama?

1. Kamu harus punya blog. WordPress, tumblr, blogspot, atau apa pun. Terserah kamu.

2. Setiap hari, @WordsofPoetica dan @lovaboration akan melempar satu tema ke timeline. Perihal judul yang ingin dibuat, itu semua dikembalikan kepada teman-teman. Satu tema, satu tulisan berupa cerita inspiratif dalam satu hari. Akan ada 14 tema pada akhir ajakan menulis di #14DaysofInspiration.

3. Tulislah sebuah tulisan fiksi dengan tema yang kami lemparkan di timeline. Panjang tulisan tidak dibatasi.

4. Setiap hari, setelah selesai menulis, mention link tulisan kamu ke @WordsofPoetica dan @lovaboration. Kami akan membagi link itu ke timeline dan blog kamu tentu akan lebih mudah dikunjungi banyak orang.

5. Tema setiap harinya akan berbeda. Jika hari pertama menulis dengan tema A, di hari kedua kamu akan mencoba menulis dengan tema B atau C, pengalaman baru, eksplorasi ide baru juga.

6. Jangan lupa juga sertakan tagar #14DaysofInspiration di setiap akhir tulisanmu.

7. Permainan ini akan dimulai tanggal 10 Juli sampai 24 Juli.

Tertarik? Mau coba menulis bersama kami? Jangan ragu untuk memulai.

Salam Kami,

@WordsofPoetica dan @Lovaboration

0

Rasa yang Tersembunyi

by

Lala Prisca dan Masya Ruhulessin

.

“Mmm… kamu lagi.”

Yang merasa disapa hanya menolehkan kepalanya sambil berkernyit dahi, “Iya, kenapa?”

“Duh, ketusnya…,” kata Ama dalam hati. “Bukan biasanya Aldi begini,” Ama bergegas menjauh dan mencari bangku sendiri dalam perpustakaan itu.

Matanya sesekali melirik pada Aldi yang duduk di ujung kanan ruang ini, tempat pertama kali bertemu. Ama baru mengenalnya belum lama. Tetapi dia mulai menyukai hal-hal kebiasaan kecil Aldi. “Ah sudahlah, mungkin dia tak ingin diganggu kali ini. Nanti dia juga bercerita,” Ama berusaha menghibur diri, memulai belajarnya.

Ama mulai menekuni buku teksnya. Ia membalik halaman demi halaman dengan seksama. Ama mendongak ke arah jendela untuk sekedar menyegarkan mata lalu metunduk lagi menatap buku. Namun siluet punggung Aldi yang terpantul di kaca memaksa konsentrasinya tak lagi searah. Ia membaca lalu melirik sesekali ke arah Aldi.

Ama merutuk dalam hati. Mengapa lelaki yang kadang menyebalkan itu dapat menarik perhatiannya dari sebuah buku yang begitu menarik. Ama memejamkan matanya kemudian membenamkan kepalanya pada dasar buku. Ia berharap Aldi segera hilang dari pikirannya.

“Kebanyakan pikiran?”

Ama kaget mendengar suara dibelakangnya. Didongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Ama kaget bukan main, Aldi menatapnya dengan pandangan acuh tak acuh. Ama merasakan darah mengalir deras ke pipinya.

“Sok tahu ah,” tergagap Ama menjawabnya.
“Akui saja…, kenapa?” Goda Aldi sambil mengambil bangku duduk di depan Ama.

Ama pun makin jengah. Dia tahu Aldi takkan menghentikan tatapan itu sampai mendapat jawaban dari pertanyaan. Ama dengan cepat menutup buku yang dibacanya, dibereskan semua perlengkapannya dan siap meninggalkan perpustakaan dan Aldi.

“Hei, tunggu. Kamu belum jawab pertanyaanku.” Aldi menyambar lengan kurus Ama berusaha menahannya.

Ama terhenti dan sejurus menghela nafas. “Tadi apa yang kau lakukan ketika kau duduk di bangku itu?” Sambil kepalanya menunjuk tempat duduk Aldi.

“Duduk? Aku duduk di mana? Aku barusan datang dan melihatmu sedang melamun, kupikir kamu sedang banyak pikiran hingga tak mau menungguku di tempat biasa.”

Kini giliran Ama mengernyit dahi. Ada yang aneh. Seperti waktu terhenti mereka sibuk dengan kebingungan sendiri.

“Sudah, lepaskan. Aku pulang. Besok saja kita di sini lagi.” Aldi pun berat hati melepaskan genggamnya, seolah ada yang pergi.

“Jangan-jangan dia lagi…,” katanya dalam hati. Nyaris dia memanggil Ama hendak menjelaskan sesuatu. Tetapi lambaian tangan terhenti di udara dan suaranya pun ditelan kembali.

***

Aldi mematung menatap layar laptopnya. Belum ada satu kata pun yang dia ketik di sana. Padahal besok makalahnya harus dikumpul pukul tujuh pagi. Pikirannya kini dipenuhi wajah seorang gadis yang sejak beberapa minggu belakangan ini giat berkutat di pikirannya, Ama.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk. Perawakannya tinggi putih, persis Aldi wajahnya.

“Aku pinjam gitarnya dong.”

“Tuh..” ujar Aldi sambil menunjukkan letak gitar dengan bibirnya.

“Kamu tadi ketemu cewek ya di perpus, manis, rambutnya sebahu?”

“Yang rambutnya sebahu banyak, Aldi.”

“Ada yang bicara sama kamu gak?”

“Ehm. Entahlah. Aku lupa. Kenapa?”

Aldi hanya menggeleng tak bersuara menjawab pertanyaan saudara kembarnya Aldo. Ia kembali mengarahkan perhatiannya ke layar laptop dan berharap akan menyelesaikan makalahnya tepat waktu.

***

Ama melamun di meja belajarnya dalam kamar. Dia masih memikirkan sikap Aldi yang aneh. Ama menghela nafas panjang, tak habis pikirnya tentang Aldi hari ini.

Dihembuskan lagi kekesalannya. Besok makalah harus selesai.

(((Dering Ponsel)))

Ama hanya menatap layar ponsel-nya. Nama Aldi sana, dan dibiarkannya. Entah dia tak mau diganggu lagi.

Berkedip cahaya dari layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Aldi.

“Kamu pasti sibuk juga ya, tak mau angkat telponku? Selamat malam, selamat belajar.”

Ama menatap lama layarnya, dan mengedikkan bahunya. Tanpa membalas pesan itu. Tugas sudah menanti.

***

Pagi hari yang tenang. Remah-remah matahari baru saja mencapai tanah. Aldi baru saja menyelesaikan makalahnya. Waktu telah menunjukkan pukul lima dan ia sama sekali belum memejamkan mata sedari kemarin. Diliriknya ponsel yang tergelatak di atas meja. Tidak ada pesan yang masuk. Bahkan balasan pesan yang sangat diharapkannya pun tak ada.

Aldi beranjak malas dari tempat duduknya. Diraihnya handuk lalu menuju ke kamar mandi. Ia berharap dinginnya air akan menghapus setiap spekulasinya tentang Ama sepanjang malam tadi.
Tapi semua itu percuma. Dinginnya air malah semakin membuat spekulasi di otaknya berlipat ganda.

***
“Selamat pagi Ama, kamu sehat? Aku ingin bicara denganmu, sepulang kelas di tempat biasa.”

Ama menghembus nafas kesal. Pandangannya masih menatap layar ponsel. Dilemparnya ke dalam tas. Sedang mengemudi, tak baik membalas pesan ponsel, seperti kata Aldi.

Lagi-lagi dia menghempas kesal, ingatan tentang Aldi makin menjadi-jadi. Laki-laki itu sudah separuh hatinya dan menanamkan banyak putik-putik kembang.

Dengan gemas Ama mencengkeram kemudinya lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat biasa mereka bertemu.

Ama menemukan lelaki itu, duduk membelakangi arah kedatangannya. Dia hafal betul pemilik punggung hangat itu. Tiba-tiba saja pipinya menghangat. Berkelebat kenangan manis awal-awal pertemanan mereka. Ama diam-diam menyimpan bahagia pada Aldi. Tak pernah lebih menaruh harap.

Ama lekas bergegas menuju sosok tampan itu.

Tiba-tiba…

Hujan turun dengan lebatnya. Ama menyesal karena lupa membawa payung padahal letak parkir mobilnya lumayan jauh dari tempat Aldi menanti. Ama menimbang-nimbang akan keluar atau tidak. Pasalnya jika ia basah tercurah hujan, flu berat tak bisa ia tolak. Ama tak ingin itu terjadi karena besok ada banyak ujian yang menanti.

Ama akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Aldi yang kini punggungnya terlihat samar-samar akibat kaca yang mengembun. Ia ingin meminta Aldi untuk menanti sebentar hingga hujan agak reda.

Belum juga mengirim, ada seseorang yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.

Sesosok serupa Aldi dan membawa payung berada di dekatnya. Bayang itu memberikan isyarat untuk meminta masuk. Ama mengerti. Sedikit membukakan pintu dan menggeser tubuhnya, duduk di sisi kiri.

Benar dia Aldi.

Ama sedikit lega. Tetapi kepalanya dipenuhi tanda tanya. Secepat itu Aldi tiba? Ama berusaha mencari punggung yang dilihatnya tadi. Ah, kaca di luar terlalu berembun, sulit menembus penglihatan.

Ama menatap Aldi, meyakinkan diri bukan melihat hantu atau Aldi.jadian.

“Heh, sudah ini sungguh aku, Aldi. Tadi aku menunggumu dan melihat mobilmu mulai masuk, dan hujan. Tapi rupanya terlalu deras, baiknya kita di sini saja, keberatan?”

Ama hanya menggelengkan kepala. Berdua dan sedekat ini masih saja membuatnya gugup. Terkadang bertanya-tanya apakah Aldi hingga ikut mendengar degup kencang dari dadanya.

“Aldi, maaf aku tak membalas telpon dan pesanmu semalam hingga pagi. Kamu juga tahu tugas-tugas kuliah kita semakin berat.”

Aldi hanya tersenyum. Tangannya meraih puncak kepala Ama dan mengacak-acak rambutnya.

“Iya, aku tahu. Aku hanya ingin bicara berdua saja. Kangen mungkin…,” Aldi seolah menggantung ucapannya. Matanya menatap mata Ama. Tangan Aldi hendak mendekatkan kepala Ama pada peluknya.

Tetapi dengan gerakan sedikit halus berusaha menahan diri agar tak jatuh di pelukan Aldi. Meski sebenarnya dia rindu dan ingin memeluk Aldi.

Aldi tahu diri, membaca isyarat Ama, dan tak memaksanya.

“Aldi, kau ingin bicarakan apa sebenarnya?” Ama membuka percakapannya.

Aldi menggigit bibirnya kencang lalu menghela napas panjang.

“Begini Ama. Aku minta maaf atas perlakuan untuk semua kebingungan yang tercipta belakangan ini”

“Maksudnya?” Ama mengernyitkan dahi keheranan

“Untuk semua kejadian aneh di perpustakaan dan barusan.”

Ama berdehem, mengatur napas dan mulai berbicara pelan. Ia tak ingin Aldi membaca bahwa begitu banyak pertanyaan yang menggantung dipikirannya.

“Memang ada yang aneh ya Al? Semuanya biasa saja menurutku”

Aldi tersenyum kecut. Tak disangka ekspresi Ama sedatar itu. Ini diluar ekspektasinya.

“Memang ada apa Aldi?”

“Apakah kamu tidak menyadari ada yang aneh belakangan ini Ama? Seperti katamu kamu melihatku duduk di perpustakaan padahal aku baru saja datang kesana”

“Oh yang itu. Aku sudah melupakannya” ujar Ama acuh tak acuh.

“Mmm…,” kembali Aldi menggantung percakapannya.

Mereka menjadi hening. Hanya suara ‘ketak-ketik’ dari ponsel masing-masing. Mereka lebih memilih diam, tak ada yang berinisiatif meneruskan pembicaraan.

Hujan pun reda.

***

“Di, pinjam ponsel-mu. Mepet pulsa nih. Mana?” Tanpa menunggu jawaban, Aldo mencari-cari sendiri yang diingin.

“Tuh…,” bibirnya mencebik menunjukkan ponsel itu di atas nakas.

Aldo melompat di atas tempat tidur, dan menjadi berantakan ala Aldo, pun segera sibuk dengan ponsel Aldi.

Aldi melihat itu dengan berkernyit. Heran, Aldo senyum-senyum sendiri dengan layarponsel-nya.

“Kamu chatting sama siapa sih?”

“SMS saja kok, sama teman cantik pasti,” Aldo makin menggoda Aldi.

Aldi terdiam. Sesekali melirik curiga pada senyum-senyum Aldo.

((( Dering Ponsel )))

“Nih ada telpon masuk, Di,” ujar Aldo sambil menyodorkan ponsel ke tangan Aldi.

Sebuah nama tertera di sana membuat Aldi hendak melonjak setinggi-tingginya tapi ia tahan karena malu dengan Aldo. Ia lalu berlalu ke teras kamarnya untuk berbicara dengan seseorang yang jauh di sana.

“Halo Ama. Selamat malam. Ada apa?” terdengar suara Aldi berujar.

“Aku rindu kamu.”

“…..”

Aldi seperti terkena badai es hebat. Ia mematung tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia tak menyangka ungkapan rindu terlontar dari gadis yang siang tadi begitu acuh padanya.

“Maafkan aku Aldi. Aku hanya mencoba menahan semua rasa ini tapi terlalu berat nampaknya.”

Aldi masih saja diam seribu bahasa. Ia mencoba mencerna apa yang Ama katakan.

“Aldi, kamu masih di sana kan?”

“Eh, eh, iya. Kamu di mana sekarang?”

“Aku di rumah Aldi, mau di mana lagi?”

Ok!”

Aldi segera menutup ponsel-nya, setengah berlari meraih kunci motor dan jaket cokelatnya. Tatapan keheranan Aldo yang masih duduk santai di atas tempat tidur tak dihiraukannya. Yang Aldi tahu ia harus segera berjumpa dengan gadis penggangu pikirannya – Ama.

***

“Aldi?”

Sesosok itu berbalik. Temaram lampu beranda makin membuatkan siluet itu menggrafirkan ketampanan Aldi. Ama nyaris tak berkata-kata.

“Sudah di sini…,” terbata-bata Ama menahan gugup.

Mereka duduk di kursi beranda. Keheningan sedang berbicara dan mendengarkan degup-degup yang mencari tahu — mencari kepastian.

“Mengapa kau harus memendam rindu? Padahal kau tahu aku juga merasakan hal yang sama” ujar Aldi memecah keheningan

Ama menyesap udara malam, melirik Aldi sebentar lalu meluruskan pandangannya ke depan, menatap langit.

“Maafkan keragu-raguanku atas perasaan ini. Aku bahkan tak berani berjumpa denganmu mengingat bagaimana kejadian di dalam mobil itu. Aku malu sekali. Aku sungguh bodoh menafsirkan segalanya. Aku bahkan tak bertanya terlebih dahulu padamu”

“Memangnya ada apa? Apa yang perlu kamu konfirmasi?”

“Beberapa jam sebelum agenda pertemuan kita, aku melihatmu atau lebih tepatnya seseorang yang mirip denganmu berjalan bergandengan tangan mesra dengan Kharisa, sepupuku.”

And then?”

“Aku cemburu. Rasa cemburu menguasaiku begitu hebat hingga aku tak bisa membuka mulutku untuk bertanya padamu hari itu. Aku marah, kesal pada dirimu juga diriku sendiri. Itulah kenapa aku tiba-tiba menjauh darimu. Maafkan aku.”

Aldi mengernyitkan dahi mencoba menangkap apa yang Ama katakan.

“Kemudian mengapa kau tiba-tiba memiliki keberanian mengungkapkan rindu padaku malam ini?”

“Tadi siang Kharisa membawa pacarnya untuk dikenalkan di acara keluarga. Aku hampir gila untung saja aku akhirnya tahu itu saudara kembarmu Aldi. Namanya Aldo bukan?”

Aldi terdiam. Tatapannya tajam tertuju mata Ama. Segera saja rasa canggung di antara mereka mengudara.

“Iya, itu Aldo saudara kembarku. Dia juga yang kau temui di perpustakaan itu,” suara Aldi memecah udara sesak itu.

Ama tersenyum, raut kelegaan terpancar.

“Ama, pun aku rindu. Boleh kukatakan sesuatu?”

Ama jengah dan merona merah. Beruntung temaram lampu menutup rasa malunya. Ama segera mengangguk kecil.

“Ama, aku Aldi berjanji untuk mencintaimu setulus hati, maukah menerimaku?”

Dan tiba-tiba wajah Ama memucat, nyaris jatuh pingsan. Untung Aldi masih berada di dekatnya, dengan sigap dipeluknya Ama.

Ama menyurukkan wajah dan kepalanya di dada Aldi. Ia menyembunyikan rasa jengah dan malu. Aldi masih menunggu jawaban.

Ama masih bersabar. Degupnya telalu kencang oleh rasa bahagia, hingga hampir tak satu pun ucapnya.

“Iya Aldi, pun aku mencintaimu dan hampir gila bila merindumu…,” sedikit terbata dan setelah beberapa saat akhirnya Ama menjawab.

Kelegaan kini menjadi udara. Aldi memeluk erat Ama.

“Masih cemburu nanti, bila kau tak bisa membedakan kami?”

Aldi mengaduh perlahan, jemari Ama mencubit perlahan membalas godaan, Aldi mempererat pelukan dan mengecup kening kekasihnya – Ama.

0

Bahagia yang Nyata

by

Indah Lestari dan Aini W.K

.

Saat sahabat baikku tak sengaja memposting beberapa foto, tak sengaja mataku menatap sosok seorang pria berkacamata. Aku memandang menajamkan mata tepat ke depan layar laptopku. Tak perlu mencari kacamata yang tersembunyi didalam tas. Karena aku yakin itu adalah dia. Seseorang yang pernah mengisi relung hatiku. Dia seseorang yang kini bersembunyi dan mengunci pintu hatinya untukku. Dia dengan senyum bahagianya telah menorehkan luka yang di dalam hatiku. Tawanya kini seolah seperti sebilah pisau yang menancap di jantungku. Sesak napas dibuatnya namun tak bisa berkata-kata. Detik itu seakan semua harapan melayang.

Melayang? Haruskah hal itu kusebutkan berulang kali karena kenyataannya aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi tentangnya. Hatiku tawar. Tak ada pahit yang harus kucicip seperti tiga tahun silam atau tak ada manis seperti yang sempat aku nikmati beberapa waktu ketika bersamanya. Aku sudah lupa bagaimana cara berhitung tentang perasaan, menimbang seberapa beratnya saja pun aku sudah tidak mengerti seperti apa. Iya, mungkin itulah yang sekarang aku rasakan. Tak ada rasa apa-apa.

Foto berduanya dengan entah siapapun itu nyatanya hanya membuatku terkejut untuk beberapa detik saja. Bukan karena rasa iri atau cemburu seperti yang kurasakan dulu, namun keterkejutan itu karena aku tak menyangka dia bisa berada dalam jarak sedekat itu dengan seorangperempuan. Satu hal yang aku ingat adalah dia tak pernah suka untuk terlalu dekat dengan kaum hawa entah karena alasan apa.

Saat bersamaku tak sekalipun tangan itu menggandengku mesra. Melihat tawanya yang begitu lepas hatiku seperti tercubit. Sakit. Tawa itu masih seperti tawanya dulu, lepas bebas dan bahagia. Aku tanpa sadar tersenyum mengingat betapa dulu tawa itu dia persembahkan untukku. Siapa dia yang mengembalikan senyumnya? Apakah dia juga membuat perempuan itu melayang karena mendambanya? Apakah perempuan itu akan melakukan apa yang seperti dia lakukan kepadaku? Memberikan cinta tanpa kata? Aku menutup mata, tak seharusnya aku memikirkan semua ini. Tak seharusnya rasa yang dulu ada membuatku berhenti melangkah.

Aku tak pernah menyangka langkah kakiku telah lama berhenti. Mematung di tempat dan tak pernah beranjak. Aku masih di sini dan sendiri merengkuh bayangannya. Kata yang dia ucapkan terkadang membuatku menjerit tertahan. Luka yang telah kering kini telah dia siram kembali dengan setetes cuka. Masih pedih dan terasa perih.

Ah, sepertinya aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini. Tokoh rekaanku ini terlalu menyedihkan, aku bahkan sampai terseret masuk emosi yang berlebihan. Aku merasakan sesak dan kedukaan yang sama. Aku menjadi seperti perempuan patah hati dan hidup tanpa gairah yang tak pernah merasakan kebahagiaan. Ini terlalu menyakitkan.

“Sayang, kamu tidak lelah seharian di depan laptop seperti ini?”
Suara bariton seorang pria menyentakku dari khayalan. Tangan kekarnya memijat bahuku pelan membawa kenyamanan dan ketenangan. Sesaat aku merasa lepas dari segala beban. Tubuhku seperti melemas, sendi-sendi tulangku seperti disuntikkan penenang yang membuatku begitu santai. Ini hal yang sangat menyenangkan. Aku menyukai semua yang sedang dilakukannya.

Aku menengadahkan kepalaku padanya dan memasang wajah lelah yang tak dibuat-buat. Berusaha tersenyum namun yang ada malah terlihat seperti orang yang sedang meringis.

“Nanti kamu sakit,” lanjutnya.

Dibereskan semua perlengkapan pekerjaanku yang berada di atas meja warna ungu. Ballpoint, kertas, buku, notes berwarna-warni, post it yang ditempel hampir di seluruh bagian meja, terakhir pria itu mengklik tombol simpan dan menutup laptop yang masih dalam keadaan hidup. Aku membiarkan saja pria itu melakukannya, mungkin ini yang aku butuhkan; berhenti dan beristirahat. Nyatanya aku begitu menyukai apa yang dilakukannya. Ia mengkhawatirkan kesehatanku. Manis bukan?

Dipeluknya tubuhku dari belakang ketika aku beranjak bangun dari kursi kesayanganku. Diciuminya tengkukku dan dibisikkannya kata-kata yang selalu kusuka. “Kamu harus bersantai sedikit, sayang, jangan memaksakan diri seperti itu,” ia mengeratkan pelukannya, “Memang kamu tidak kangen mas?” lanjutnya lembut.

Ya, aku terlalu lama dan fokus ke pekerjaanku ini, tenggelam dalam cerita yang kutuliskan padahal deadline pun bila kuhitung masih terlalu lama. Entah sudah berapa malam ia kubiarkan tidur sendirian di ranjang besar kami, sedang aku menghabiskan malam hingga pagi hari dengan segala tetek bengek pekerjaan.

Aku membalas memeluknya dengan mesra.

“Ah, aku juga kangen banget sama mas, tapi kasihan deh mas tokohku, dia merana dalam kesendiriannya.” Aku bergelung manja dipelukannya. Dan dengan manja pula aku membahas tulisanku dengannya.

Pria itu memang memahami imajinasiku yang sering tak terkontrol dan tak terbendung. Terkadang aku bisa menangis sambil memeluknya ketika tokohku sedang bersedih, aku juga bisa sangat senang jika tokohku itu dalam keadaan senang. Mungkin jika orang lain yang melihat keadaanku mereka akan mengatakan aku mengidap Bipolar Disorder, kelainan kejiwaan yang dikarenakan suasana hatiku yang dapat berganti secara tiba-tiba antara kebahagiaan dan kesedihan yang ekstrim. Sungguh bahagia memiliki seseorang yang bisa memberikan kenyamanan seperti ini.

“Ini sudah pagi yah mas?” Tanyaku manja sambil memeluknya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan mencium keningku lembut.

“Ayo, usahakan tidur sebentar, mas peluk kamu biar tidurnya nyenyak sampai besok siang.”

Kuturuti saja kata-katanya tanpa sedikitpun membantah. Perasaan sedih dan duka yang terbawa karena tokoh rekaan yang sedang kukerjakan hilang begitu saja tergantikan rasa bahagia dan senang karena merasa begitu disayang dan diperhatikan. Pria yang sedang menyelimutiku dengan tubuhnya yang hangat inilah yang selama empat tahun ini tetap menjaga kewarasanku diantara tokoh-tokoh yang kuciptakan yang tanpa kusadari sering merasuki alam bawah sadarku.

*
Cahaya matahari masuk tanpa penghalang melalui jendela kaca yang besar dalam kamarku. Kurasakan sentuhan bibirnya di keningku. Basah dan hangat menempel merasuk sukmaku. Aku membuka mata dan mendapati senyum indahnya.

“Sudah siang sayang, kamu harus bangun. Kamu harus makan dulu.”

Aku memejamkan mata lagi. Tak ingin mengakhiri pelukan hangat darinya. Toh ini hari minggu, tak harus dipusingkan dengan jam kerjanya. Dan urusan makan? Ah, itu urusan nanti. Dia memang selalu mengingatkan aku akan hal ini. Andai saja dia tahu, aku lebih bahagia dipeluknya sepanjang hari daripada menikmati sepiring makanan. Namun aku tetap saja membuka mata dan tersenyum. Tak ingin membuatnya sedih dan kecewa karena aku tak menuruti kata-katanya.

“Iya, mas,” kataku sambil menguap panjang. Pria yang tak terlalu tampan namun tatapannya begitu menghanyutkan itu tersenyum senang. Aku tahu apa yang akan membuatnya bertambah senang. Memasak! Iya aku akan memasak untuknya dengan kemampuanku yang seadanya. Tidak mengapa, ia tak pernah menolak walaupun hasil masakanku citra rasanya tak pernah benar. Bahkan ia selalu merasa senang dan menghabiskan apapun yang aku masak.

Membuat bahagia dan senang tidak harus berlebihan dan luar biasa. Hal-hal kecil seperti inipun nyatanya sudah membuat kami berdua bahagia. Saling mendukung, saling menyayangi, saling bermanja-manja itu sudah cukup bagi aku dan dia. Tak perlu kisah cinta yang seperti dalam semua tulisanku. Itu hanya rekaan belaka yang kubuat dengan terlalu mengada-ada.

Yang sekarang ada di sampingku adalah dia, seorang suami yang akan terus menjaga kewarasanku dalam bercerita seburuk apapun aku dibuat gila oleh tokoh yang hanya rekaan saja. Dan tentu saja, aku pun tak akan membiarkan diriku menjadi gila karena tokoh-tokohku itu, karena pria bercelana boxer yang sedang menemaniku memasak ini terlalu baik dan begitu nyata jika harus kubandingkan dengan mereka yang hanya khayalan.

0

Kisah yang Terulang

by

Dyaz AfryantoEllya Anggraini Uni Dzalika, dan Putra Zaman

.

“Kamu mau nggak hidup di surga selamanya?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Aku mau hidup di dunia, satu hari saja, asalkan bersama kamu.”

Matanya menatap ke laut lepas, sedangkan aku masih terpaku pada senyum tulusnya. Senyum yang selama ini menenangkanku itu, tak kuasa aku menghapusnya. Entah bagaimana lagi aku harus membujuknya agar dia membatalkan perjalanan ini. Sudah berkali-kali kujelaskan bahwa melawan orangtua, terlebih ibu, adalah hal yang buruk. Aku tak ingin dia jadi anak yang durhaka, meskipun aku harus mengorbankan hubungan kami yang tak direstui ini.

Suara debur ombak yang menabrak dasar kapal memecah keheningan yang beberapa menit menyergap kami. Lalu kuraih tangan kekasihku itu. Kugenggam erat.

“Aku sungguh nggak mau kehilangan kamu. Tapi apa yang lebih berharga dalam hidup ini selain restu ibu?” kutatap matanya dalam-dalam.

“Entahlah…” dia tertunduk lesu.

Kuangkat dagunya dengan lembut. “Kita nggak harus seperti ini, sayang.”

Kedua mata kami saling memandang. Mata yang penuh ketulusan kudapati di sana. Tak ada keraguan memang, bila sebuah ketulusan kupertanyakan kepadanya.

“Aku mencintaimu…” katanya lirih.

Sontak kupeluk erat tubuh mungilnya yang berada di hadapanku. Seakan tak ingin melepasnya. Sudah terlalu banyak yang ia korbankan untuk hubungan ini. Sedangkan aku? Aku hanya mampu memberikan sejuta rasa yang tulus kepadanya.

Hembusan angin yang kian menyekap tubuh membuatku larut akan kebersamaan ini. Ingin rasanya kuhentikan waktu yang terus-menerus berputar. Kulingkarkan lenganku di pundak bidadariku. Melindunginya dari dingin malam yang kian menusuk.

“Ayo masuk, nanti kamu masuk angin,” ucapku sambil melepaskan dekapanku pelan-pelan. Lalu dengan sigap kukenakan jaket kulitku ke tubuhnya.

Setelah kami duduk di kursi penumpang, digenggamnya tanganku. “Sayang, aku nggak bisa kalau kita harus pisah.”

“Apalagi aku. Makanya aku lebih memilih pergi dari rumah,” disandarkannya kepalanya ke bahuku.

“Tapi bukan begitu caranya, sayang. Bagaimanapun hubungan kita gak akan baik selama nggak ada izin dari ibumu.”

“Jadi kita harus bagaimana?”

Aku terdiam sejenak. Aku ingat sekali air muka ibunya yang selalu tak ramah saat melihatku. Ibunya selalu bilang bahwa aku parasit, tidak memiliki masa depan, dan hanya memanfaatkan anak gadisnya demi harta keluarga. Aku sebenarnya tidak seperti itu. Hanya saja ibunya berkali-kali mengatakan kepada banyak orang bahwa aku seorang materialistis. Jadi, jangan salahkan jika aku benar-benar menjadi orang jahat karena perkataan ibu kekasihku ini.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku telah menjadi sesuatu yang buruk dimata keluarganya.

Aku tidak akan pernah menerimamu di keluarga ini!

Betapa aku akan selalu mengingat perkataan ibunya waktu itu. Ketika jari telunjuknya mengarah padaku dan mengusirku dari rumahnya.

Aku terpaksa menjalani hubunganku dengan Elina secara diam-diam, tanpa diketahui ibunya. Aku ingin sekali menyerah pada keadaan ini tapi besarnya rasa cinta yang diberikan Elina membuat aku tak ingin melepaskannya. Sampai idenya untuk melarikan diri dari rumah tak bisa dihindari. Ada rasa berdosa, tapi rasa cinta ini mengalahkannya.

Kuhembuskan napas cukup panjang, aku pun tak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Apa yang harus kulakukan untuk membuat sikap ibunya berubah terhadapku?

“Lin, kamu sekarang istirahat dulu, ya. Mungkin masih dua jam lagi kita sampai pelabuhan. Biar aku yang jagain kamu.”

“Iya, aku sudah ngantuk banget nih,” kemudian dia beringsut dari dadaku. Dua kursi kosong yang ada di sampingnya sekarang sudah menjadi kasur baginya. Kuberikan ranselku sebagai bantalnya.

Sekejap saja dia sudah terlelap begitu pulas. Aku tersenyum memperhatikan wajahnya, tapi ada kegetiran yang menjalar di hatiku. Kami pergi jauh dari rumah. Entah ke mana, tanpa tahu tujuan.

Aku melihatnya tertidur dengan damai. Seperti katanya, bersamaku adalah hal terindah baginya, meski dalam keadaan susah. Aku kemudian melihat isi dompetku dan hanya bisa menghela nafasku.

“Uang tinggal segini, bagaimana nanti aku dan Elina bisa hidup untuk sehari-hari?” aku merasa pesimis dengan keadaan. “Aku harus cari kerja nanti, paling tidak ada uang untuk makan.”

Aku menutup mataku, tak kuasa menahan segala cobaan ini. Ya Tuhan bantu aku melewati segala rintangan ini. Lama aku terdiam dan menutup mata, lalu air mataku jatuh tanpa aku perintahkan.

“Sayang kamu nangis ?”

Aku terkejut tak menyadari bahwa Elinda telah bangun dari tidurnya.

Lagi, kutatap dalam-dalam wajahnya. Ada banyak kenangan yang terekam dalam bola matanya, dan terukir semua kejadian kami di setiap lengkung bibirnya. Aku selalu teringat masa-masa itu, saat dimana ia lebih banyak mengeluarkan uang demi aku, dan ibunya tak pernah tahu. Dulu, banyak sekali tawa yang kami hasilkan, banyak suka cita. Tak peduli semua orang menganggap bahwa hubungan kami berat sebelah karena Elina lebih mendominasi. Sekarang, aku ragu kalau hubungan ini diteruskan aku akan semakin menderita karena merasa tak bisa membahagiakan dia.

“Sudah, lupakan Lin. Aku nggak nangis,” aku mengusap air mataku, segera berdiri dari tempatku. Rasanya mengirup udara laut akan lebih menenangkan.

Elina memegang lenganku segera. Memeluk tubuhku dari belakang seolah ia tak menginginkan aku pergi jauh darinya. “Kamu nggak usah memikirkan kita. Aku akan baik-baik saja selama itu bersamamu.”

Aku menghela napas panjang, membalas peluknya, kuusap lembut telapak tangannya yang kini berada diperutku. Aku membalikkan badanku, memegang mukanya yang mungil dengan kedua telapak tanganku, “Aku janji, aku janji, selama kamu bersamaku, sebisa mungkin aku akan jaga kamu. Aku janji aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia,” ucapku lirih.

Perjuangan yang selama ini telah Elina tunjukkan kepadaku rasanya sangatlah tidak setimpal jika aku memiliki pikiran untuk berbuat apa yang selama ini sering ibunya tuduhkan kepadaku. Elinda tak sepantasnya mendapatkan balasan atas pelampiasanku terhadap ibunya.

“Iya, aku percaya sama kamu, kok,” dipeluknya lagi tubuhku.

“Kamu nggak ngantuk lagi?” tanyaku sambil membelai rambutnya.

“Nggak. Yuk lihat bintang lagi, sebentar lagi udah pagi, nanti nggak ada lagi bintangnya.” Dilepasnya pelukan pelan-pelan, lalu digamitnya lenganku. Kapal ini seperti milik kami sendiri, tak peduli tatapan penumpang lain yang memandang kami dengan sinis. Aku yakin mereka semua pasti iri dengan kemesraan kami.

Di luar, angin laut sudah tidak sedingin tadi, semburat cahaya fajar mengintip dari timur cakrawala, suara debur ombak semakin deras menghantam-hantam badan kapal.

“Sepertinya sebentar lagi kita sampai,” bisikku kepada Elina.

“Iya, itu sudah kelihatan lampu-lampu kotanya. Kamu siap, kan, kita mulai hidup baru?” dia tatap mataku penuh pengharapan.

Kapal dengan pelan merapat ke pelabuhan. Aku dan Elina bergegas turun dari kapal dan melangkahkan kaki keluar dari kapal. Aku mengarahkan mataku ke segala penjuru tempat. Mencoba mencari arah kemana kami akan melanjutkan perjalanan.

“Ini di mana sayang, kita sekarang mau kemana?” tanya Elinda kebingungan.

“Aku juga nggak tahu, yang pasti kita cari tempat tinggal dulu.”

“Sayang aku lapar,” ucap Elina.

“Ya sudah. Kita sekarang cari makan dulu ya.” Aku melihat wajah Elina yang tampak kelaparan.

“Kita ke sana aja,” aku menunjuk ke arah depan, menunjuk jauh.  Aku memakaikan jaket kulitku pada Elina, kami berjalan pelan meninggalkan pelabuhan. Elina hanya mengangguk, mengikuti saja apa yang dikatakan olehku. Aku segera berjalan menuju tempat yang tadi kutunjuk. Sejujurnya aku khawatir bagaimana kalau tempat tersebut tidak aman, bagaimana kalau ternyata kota ini tidak baik untuk kami jadikan tempat tinggal, tapi semua kekhawatiranku kututup rapat-rapat, biarlah aku sendiri yang merasakan ke khawatiran ini. Aku tak ingin melibatkan Elina.

Elina memilih makanan yang disajikan di warteg sederhana yang kutunjuk tadi. Menyendokinya ke dalam mulut dan menikmatinya.

“Tempat makan macam apa ini!?”

Kami sontak memutarkan badan kami. Suara yang tak asing lagi bagi kami, terdengar di telinga kami.

“Ibu!” Elina sesegara mungkin mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, memelukku erat seakan tak ingin dipisahkan lagi oleh ibunya.

“Elina… Elina, bahkan untuk makan saja kamu di ajak ke tempat yang seperti ini. Gambaran awal kehidupanmu bersamanya saja sudah seperti ini. Bagaimana  nanti Elina?”

Aku sangat terkejut dengan ucapan orang yang selama ini sangat menentang hubunganku dengan Elina. Bagimana bisa dia berada tepat di hadapan kami sekarang?

“Kenapa, kalian heran kenapa ibu bisa berada di sini? Ibu melacak keberadaan kalian melalui GPS yang ada di handphone Elina,” seraya membulatkan matanya, ibu berucap tegas.

Aku masih terdiam dalam pelukan Elina yang dengan eratnya tak mau melepaskanku. Tubuhku gemetar, jantungku berdegup kencang tak percaya Tante Ema telah ada di hadapan kami dengan membawa beberapa orang, di antaranya berpakaian Polisi.

Tante Ema menarik tangan Elina, memaksanya melepaskan pelukannya dariku. Aku melihat Elina menangis.

“Lepasin tanganmu dari dia Elina, ikut Ibu!” ucap ibu Elina dengan lantang. Sementara dua orang polisi yang dibawa Tante Ema membantu. Pelukannya terlepas, dengan segera tante Ema memisahkan kami, dan dua polisi itu memegang tanganku.

“Kamu kami tangkap dengan tuduhan membawa lari anak orang.”

“A… a… aku tidak membawa kabur dia, Pak,” ucapku terbata-bata.

“Ah, sudah. Kamu jangan banyak alasan. Tangkap aja dia pak polisi.” Tante Ema dengan emosi berkata demikian. Aku kemudian dibawa pergi oleh kedua polisi tersebut tanpa sempat melihat Elina.

Baru saja aku memasuki mobil polisi itu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Sepertinya berasal dari dua mobil yang berbenturan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku mengenali salah satu mobil yang berada di sana. Mobil hitam dengan nomor polisi B 3595 EF. Aku segera berlari keluar dari mobil polisi yang tak lama sebelum itu kumasuki, menyusul satu polisi yang tadi membawaku masuk berlari menuju ke tempat kejadian. Tak ada satu korban pun yang sadarkan diri dari kecelakaan tersebut. Puing-puing kaca mobil tersebar di sana. Kudapati Elina, ibunya, serta pak sopir yang biasa mengantar keluarganya kemana-mana bersimbah darah di bagian kepala.

Aku terduduk lemas. Tubuhku gemetaran. Dua polisi tak lagi memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku segera memegang tubuh Elinda. Mengguncang bahunya dengan keras agar dia sadar. Mataku terpejam.

“Yang… yang? Yang! Sayang kenapa?!” Kudengar suara Elina. Mataku sedikit berkabut karena air mata yang tidak dapat kutahan. “Abang melamun nih,” Elina mengagetkanku.

Aku menatap sekeliling. Tidak ada darah. Tidak ada orang-orang berseragam polisi. Tidak ada Tante Ema. Semua masih sama seperti saat kami turun dari kapal. Masih di tempat makan ini. Hanya yang berbeda, lampu-lampu jalan sudah mulai padam dan suasana lebih terang karena sinar matahari pagi. Melamun macam apa aku. Segera kupeluk erat tubuhnya.

“Setelah makan, kita langsung ngurusin pernikahan kita, ya, aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi,” ucapku lembut pada Elina.

***

Dua bulan setelah kejadian mimpi burukku, akhirnya aku berada di depan  ribuan pasang mata yang tampaknya bahagia melihat aku duduk bersanding di pelaminan bersama Elina.
Kualihkan pandanganku pada orang tuaku, mereka tampak bahagia. Sama seperti tante Ema, tak terlihat raut wajah kekejaman seperti dalam mimpiku waktu lalu. Aku bernapas lega, menarik napasku dalam-dalam dan mencoba menghilangkan rasa gugup yang sedikit merasukiku hari ini.

Aku berdoa dalam hatiku di tengah-tengah sang penceramah melafalkan doa-doanya.
Aku tak ingin kehilangan kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang terindah dalam hidupku.
Di akhir doaku, lafal amin juga terdengar diucapkan oleh seluruh orang yang ada di ruangan ini. Aku tersenyum bahagia.

0

Senyum Leala

by

Putra ZamanGladish Rindra dan Masya Ruhulessin

Leala memulas gincu merah darah sebagai ulasan terakhir parasannya. Kulitnya yang pias jelas kontras disandingkan dengan bibir penuhnya. Satu sudutnya berjengit pada cermin. Setiap hari baginya adalah pentas, tak ada beda dengan Rabu ini. Ia meraih tas Anna Sui marun dan mengenakan kacamata hitam besarnya. Parfait. Beginilah wanita Perancis seharusnya bergaya.

Berlenggak menuruni lift kakinya melangkah. Menyapa resepsionis pria di lobi kondominium, yang tentu saja tak pernah absen untuk terperangah dengan kecantikannya.

“Bonjour, Boyce.”

“Bb… bbo… bonjour, Madmoiselle,” balas Boyce terbata.

Leala berlalu meninggalkan pria yang masih menganganga di belakangnya dengan seringai puas. Satu pria: takluk.

Tidak seperti biasanya Leala berlama-lama di depan kondominium. Ia terlihat menyipitkan matanya, menghalau sinar mentari yang datang begitu melimpah sore ini. Sesekali ia menengok ke sisi jalan memastikan apa yang dinantikan akan segera tiba. Raymond belum juga kunjung tiba. Tidak seperti biasanya, kini ia terlambat lima belas menit.

Sore hari depan kondominium tempat Leala tinggal sangat ramai. Untuk mengusir  rasa bosan yang mulai muncul, Leala membetulkan lagi riasannya. Orang-orang yang berlalu-lalang kebanyakan menatapnya dengan kagum, mungkin karena rona kecantikan yang begitu jelas. Lalu sebagian lainnya dengan tatapan aneh hingga menuduh. Entah apa yang mereka pikirkan, Leala benar-benar tidak peduli. Pentas malam nanti terlebih penting untuknya daripada sekadar menerjemahkan setiap aksara yang diciptakan sejurus pandang.

***

Sebuah Volkswagen keluaran terbaru merapat persis beberapa langkah di tempat Leala berdiri. Seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan mata biru langit cerah keluar dari sana. Gurat keriput di sisi mata dan dahinya menyiratkan bahwa ia adalah seseorang yang sudah tak lagi muda. Ia tersenyum dan berjalan cepat menuju Leala dengan membawa setangkai bunga mawar merah.

Leala tak membalas senyum sang lelaki. Ia hanya menatap mata lelaki itu dengan tajam.

Maafkan aku terlambat, Mon Cherry.”

Leala tak memedulikan permohonan maaf lelaki itu. Disambarnya kembang merah tanda cinta itu separuh menyentak, lalu lekas mendekat ke pintu mobil. Buru-buru Raymond membukakan pintu untuk sang Nona Manis. Leala masuk, pintu ditutupnya pelan.

“Jadi, bagaimana persiapan pentasmu malam nanti?” Raymond membuka perbincangan.

“Begitulah!” jawab Leala ketus.

“Ayolah, jangan begitu, baru kali ini aku terlambat,” rayu Raymond mencoba meluluhkan sikap Leala yang mulai tak bersahabat.

Leala tak menggubris bujukan Raymond. Begitulah dia, tak ada yang bisa membuatnya tersenyum kala dia sedang cemberut. Raymond sekalipun. Raymond telah pasrah, ia menyerah. Ia hanya fokus mengatur kemudi agar Leala nyaman selama perjalanan yang cukup jauh sore ini. Leala yang sejak tadi membuang muka, tak mengubah lengkung bibirnya.

Setibanya di tempat yang dituju, sang pria mengatur kemudi di pelataran parkir yang padat. Para penikmat teater berbondong, menikmati malam setelah penat memeras peluh. Akting Leala barang pasti tak perlu diragukan lagi. Leala hendak cepat-cepat turun dari mobil mewah itu, sebelum kemudian Raymond dengan cepat meraih tangannya. Leala batal berjengit dan mendengus kesal.

Mon Cherry, berhentilah cemberut,” rayu Raymond, mengusap pipi tirus kekasihnya.

“Ray, aku terlambat,” sergah Leala, sedingin stalaktit yang jatuh dari langit gua.

Lagi-lagi Raymond hanya mendesah pelan. Lebih pada menghitung kesabarannya.

Okay, Mon Cherry. Aku tunggu di backstage setelah kamu tampil dan kita akan dinner di restoran yang aku pesan.”

Leala hanya mengangguk.

“Oh ya!” Raymond berseru, teringat sesuatu.

“Aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu. Katamu nenekmu sakit keras, kan? Aku juga sudah membelikan kondominium di dekat Sorbonne, tempat kuliahmu. Lebih besar dari yang kamu tempati sekarang. Kamu senang, Mon Cherry?”

Leala menghentikan langkahnya. Diangkat seluruh dagunya keposisi sempurna lalu membalikkan badannya seanggun mungkin ke arah Raymond. Ia menatap Raymond dengan tatapan mautnya yang dapat membuat lelaki mana saja bertekuk lutut.

“Aku tidak pernah mengharapkan bantuan sejauh itu, Dear! Aku bisa berusaha sendiri.”

Suara Leala terdengar begitu dingin hingga membekukan percakapan beberapa saat. Mereka berdua hanya saling memandang lama.

Mon Cherry, aku tidak pernah merasa terpaksa memberikan semua itu padamu. Bahkan itu merupakan suatu kebanggaan bagiku,” Raymond tersenyum. Sorot matanya menyuarakan ada kasih yang begitu tulus.

Well, kalau itu maumu, Dear! Aku ingin sekantong marshmallow sehabis pentas. Bisakah aku memperolehnya?”

“Anything for you, My Lady.”

Leala melangkah ke arah Raymond. Diraihnya tubuh kekar itu kedalam pelukannya. Aroma musk kini begitu lekat dalam penciumannya.

“Aku akan kembali sebentar lagi, Dear,” ujar Leala mesra. Ia mencium bibir Raymond singkat lalu berlalu menuju panggung. Ada senyum yang melengkung begitu lebar. Satu lagi pria takluk!

Raymond mematung sesaat. Diperhatikannya punggung kekasihnya yang semakin menjauh dan akhirnya hilang di balik pintu teater itu. Ia masih tersenyum, lalu ia masuk lagi ke dalam mobil dan melajukan lagi Volkswagen-nya.

***

Marshmallow, marshmallow. Di mana aku bisa menemukan marshmallow malam-malam begini, gumamnya dalam hati. Raymond benar-benar tak tahu harus ke mana mencari sekantung marshmallow permintaan Leala itu. Raymond tidak pernah suka marshmallow, tapi demi Leala, apa saja rela ia lakukan. Misalnya dengan malam-malam begini mencari sekantung marshmallow.

Leala telah usai memainkan perannya malam ini. Ia tersenyum ke arah penonton dan seketika ratusan pasang tangan memberi aplaus dengan meriah. Setelah memastikan senyumnya sampai di mata semua penonton, Leala segera kembali ke backstage. Dicarinya Raymond yang telah berjanji membawakan sekantung marshmallow di belakang panggung. Tapi tidak juga ketemu.

“Kau lihat Raymond?” tanya Leala ke salah satu kru pertunjukan.

“Tidak, sepertinya dia memang belum ke sini.”

Leala berdecak kesal. Lama sekali pria berumur itu untuk memenuhi permintaannya. Bahkan sampai rekan pentasnya satu-satu meninggalkan area teater, Raymond belum juga datang. Nyaris satu putaran jam dinding dia menunggu, hingga Raymond datang dan menyerahkan marshmallow dengan tawa lebar. Ia menyeringai puas.

Leala mengekor senyum. Berucap bangga padanya. Pada kesungguhannya, merta sejagad puji tercetus dari tenggorokannya, yang berakhir dengan kecupan selamat malam dan satu kunci kondominium baru yang Raymond selipkan di antara jemarinya.

Malam terlihat begitu indah. Raymond berhasil memulas pipi Leala dengan rona bahagia. Sayangnya, yang Raymond tidak tahu adalah malam itu adalah malam terakhir melihat Leala.

Esok malamnya, ia barulah menyadari Leala menghilang.

Raymond panik bukan kepalang. Rasa-rasanya ini luapan perasaan luar biasa melebihi segala bentuk kepanikan yang pernah dia alami. Ratusan pesan teks dan panggilan ke ponsel Leala sama sekali tak mendapat respons. Telah dicobanya mencari Leala ke segala sudut kota, ke tempat temannya atau ke bar-bar yang biasa dikunjunginya, namun hasilnya nihil. Tak ada seorang pun tahu kemana kekasih Raymond itu pergi. Leala seakan lenyap seperti ditelan bumi.

***

Pagi hari yang basah. Ada hujan yang begitu betah sedari malam di atap langit kota ini. Raymond terduduk dalam kamar tidur di kondomium Leala. Mukanya tampak begitu lusuh. Padahal sekarang seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya ia dan Leala sedang sibuk mengusung-usung barang pindah ke kondomium baru yang telah ia hadiahkan.

Raymond mengacak-acak rambutnya kasar. Tangannya kemudian meraih botol whiskey di atas meja kayu di sudut ruangan, lalu ditenggaknya berulang kali. Ia mencoba mereka-reka lagi di mana terakhir kali ia melihat kekasihnya itu. Mungkin saja kepanikan hari kemarin mengaburkan beberapa detail kecil. Tangannya mengetuk-ngetuk botol whiskey sambil sesekali membuang pandangan pada buramnya udara di luar. Beberapa saat berlalu, masih dalam ritme ketuk dan posisi padang yang sama, tiba-tiba Raymond tersentak kaget dengan sendirinya. Wajahnya seketika dipenuhi senyum kepuasan.

“Dia pasti ingin memberi kejutan!” gumam Raymond masih dengan senyumnya.

“Aku sudah bisa membacanya, Mon Cherry. Kau pasti ingin menghilang sebentar, lalu akan mengagetkanku dari belakang,” Raymond tertawa getir. Tapi kejutan untuk apa? Ulang tahunku masih lama, pikir Raymond.

Sepagi ini Raymond telah dibuat pusing oleh kekasihnya itu. Dia terus mencari-cari alasan yang paling logis yang membuat Leala menghilang tiba-tiba. Tapi yang dia dapat hanyalah jawaban-jawaban aneh dan tak masuk akal yang berputar-putar di pikirannya. Raymond merutuk sendiri. Diraihnya telepon seluler di atas tempat tidur dan ditekannya beberapa angka.

“Selamat pagi, apakah ini benar dengan kantor polisi wilayah?”

“…” sesaat Raymond membisu mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya.

“Saya ingin melaporkan sebuah berita kehilangan.”

***

Leala menenggak martini-nya lamat-lamat, sambil menikmati irama Beethoven. Italia tak pernah berhenti menggoda, pun pesta dengan kaum ekspatriat. Ia selalu punya cara untuk menyusup ke dalamnya, di mana pun, di belahan dunia mana pun.

Mata kirinya menelisik cairan merah di gelasnya. Benaknya tertuju pada gelondongan uang dengan jumlah entah berapa angka nol di belakang, dalam rekening banknya. Kemudian cek hasil penjualan kondomidium yang baru saja diterimanya sesaat sebelum dia meninggalkan Perancis.

“Raymond tua yang malang atau aku yang terlalu lihai?” bibirnya menyeringai.

Hey, Bella Signora.”

Leala berbalik, menatap sang empu suara dengan tanda tanya. Tentu saja, seorang Leala tak akan gagal mengusik gairah pria mana pun. Pun dengan pria muda di depannya. Bibirnya melengkung.

“Bouna noette, Signore.”

Pria dengan setelan snelli itu menawarkan segelas red wine, mengganti gelas martini Leala yang tandas.

“Chi è il tuo nome?  (Siapa namamu?)”

Leala terkekeh kecil. Tawa malu-malu yang memikat.

Campbell, Signore. Leala Campbell.

Satu pria lagi siap ia taklukkan.

Note:
Parfait: Sempurna;
Bonjour: Selamat Sore;
Madmoiselle: Nona;
Mon Cherry: Sayangku;
Bella Signora: Nona Cantik;
Bouna noette: Selamat Malam;
Signore: Tuan.

0

Agonia

by

Teguh Puja

.

Aku tak ingin berkedip hingga tiga puluh detik pertama, menanti keberanian memuncak memenuhi dadaku. Setelahnya menutup masing-masing kelopak mata perlahan, masih menanti ketakutan ini hilang. Dalam diam, di tengah gejolak perasaan yang menderu-deru dan mencoba keluar dari dalam dada. Aku mulai segera mengerti bagaimana rasanya berada di tengah palung menuju alam bawah sadar. Aku dapat mencium aroma kehidupan yang sebentar lagi akan segera memudar. Aku akan segera memudar, hilang, menyatu bersama angin malam.

Nyeri di sendi-sendi tubuh tak lagi aku pikirkan, sebentar lagi nyeri dan kepahitan yang ada di dalamnya akan segera lenyap. Meski aku tak tahu di bibir pintu mana nanti aku akan diantarkan oleh sang malaikat penjaga, entah surga atau neraka yang akan menjadi terminal pemberhentian terakhirku, aku tak tahu dan juga tak ingin menerka-nerka. Tak ingin menjadi orang fasik yang menghitung-hitung pahala tanpa berpikir mengenai dosa yang telah dilakukan, tak mau juga mengakui sebagai orang kafir yang jelas baginya neraka hanya karena aku tak ingat lagi apakah sudah pernah berbuat baik atau tidak selama di dunia. Tak berhasrat juga untuk memproklamirkan kepada dunia sebagai orang alim nan mulia yang tak pernah mencatatkan dosa di dalam buku suratannya. Aku tak ingin menjadi apa pun. Karena tak ada juga hal yang bisa kulakukan, penghakiman nantinya biarlah Tuhan saja yang berikan, aku tak perlu memikirkan panggilan apa yang pantas melekat dalam diriku setelah semua ini selesai.

Semilir angin semakin merengkuhku jauh dari dunia nyata menuju kedamaian yang aku damba. Tak lagi ingat dengan hangatnya pelukan yang pernah kurasa. Hanya kegamangan yang menghampiri. Ketakutan dan kekhawatiran masih membayangi, membebat keraguan dalam dada, menghantarkannya ke dalam kepala. Meraba-raba tentang luka yang akan muncul setelah aku tiada.

Akan tetapi dan hanya ada tetapi, rasa ngilu yang terlintas dalam pikiranku tak mampu menghentikan inginku untuk disambut oleh ia tanpa ragu, tanpa harus lagi-lagi menjadi penyakitan. Demi Tuhan. Keinginan itu terus menguat. Aku ingin bersegera menyambut kematian itu lebih cepat, tak perlu aku menunggu lebih lama lagi dalam derita tak berkesudahan.

Aku tak ingin berkedip hingga tiga puluh detik pertama, menanti keberanian memuncak memenuhi dadaku. Setelahnya menutup masing-masing kelopak mata perlahan, masih menanti ketakutan ini hilang. Dalam sunyi, di tengah gejolak rindu yang berdesakan dan mencoba keluar dari dalam dada. Aku mulai segera memahami bagaimana rasanya berada di bibir pintu menuju alam bawah sadar. Aku dapat merasakan aroma rindu yang menguar di udara. Rindu yang belum tersampaikan dari cinta gadis yang menanti kehadiranku di desanya.

*

Aku tak lagi punya kuasa apa-apa, di bibir pintu di antara neraka dan surga, yang tersisa hanyalah air mata. Tetesan itu menyeruak menganak sungai keluar dari lingkar mata. Isak tangis ini tak kutujukan untuknya, melainkan untuk diriku sendiri. Jika harus kueja setiap kebaikan dari ia yang selalu menungguku dengan setia di sana, aku mungkin tak akan sanggup lagi melakukannya. Bertahun-tahun yang lalu aku meninggalkannya. Mencari uang dan penghidupan yang layak, itu alasanku dulu. Kulakukan itu dan memang aku bekerja begitu keras untuk mewujudkannya. Satu tahun, dua tahun, semuanya menjadi begitu nyata, hasil kerja kerasku berbuah juga. Semua hasil keringatku mendatangkan kekayaan dan gelimang harta yang tak ada habisnya. Aku menjadi sejahtera, namun itu pula yang membuatku lupa.

Awalnya hanya mencoba-coba, tapi ternyata aku tenggelam juga dalam dunia yang awalnya tak pernah aku kira ada. Aku tersurut ke dalam arus yang putarannya terasa begitu kuat, aku tak bisa menghirup nafas dunia seperti biasanya, hidupku hanya bisa kuhabiskan untuk menikmati kebahagiaan semu dari kapsul-kapsul kecil yang kudapatkan setiap malamnya.

Surga. Neraka. Seperti losmen yang bisa kudatangi kapan saja. Aku bisa memasukinya kapan pun, dan keluar dengan mudah juga, tanpa harus melewati malaikat-malaikat penjaga. Surga dan nerakaku ini bisa kurengkuh dengan genggamanku dimana pun aku inginkan. Tak terhitung lagi berapa bidadari yang datang silih berganti. Bahkan bidadari pun tak perlu lagi kutunggu kedatangannya, ia bisa kuminta untuk menemaniku.

Begitu seterusnya hingga semuanya hilang meninggalkanku sendiri. Hartaku habis dan tak lagi bersisa. Hanya pesakitan yang akhirnya menjadi akhir dari segalanya. Aku terjebak dalam surga dan neraka yang aku buat sendiri.

*

Nyeri di sendi-sendi tubuh tak lagi aku pikirkan, sebentar lagi nyeri dan kepahitan yang ada di dalamnya akan segera lenyap. Meski aku tak tahu di bibir pintu mana nanti aku akan diantarkan oleh sang malaikat penjaga, entah surga atau neraka yang akan menjadi terminal pemberhentian terakhirku, aku tak tahu dan juga tak ingin menerka-nerka.

Tak ingin menjadi orang fasik yang menghitung-hitung pahala tanpa berpikir mengenai dosa yang telah dilakukan, tak mau juga mengakui sebagai orang kafir yang jelas baginya neraka hanya karena aku tak ingat lagi apakah sudah pernah berbuat baik atau tidak selama di dunia. Tak berhasrat juga untuk memproklamirkan kepada dunia sebagai orang alim nan mulia yang tak pernah mencatatkan dosa di dalam buku suratannya.

Aku tak ingin menjadi apa pun. Karena tak ada juga hal yang bisa kulakukan, penghakiman nantinya biarlah Tuhan saja yang berikan, aku tak perlu memikirkan panggilan apa yang pantas melekat dalam diriku setelah semua ini selesai.

Dan sepertinya ini memang jalan terbaik untukku.

Mati.

Aku biarkan tubuhku melayang, sembari menunggunya bertumbuk dengan bumi. Kedua kelopak mataku tertutup. Semilir angin merengkuh setiap nafas pendek yang keluar, aku pasrah. Aku masih dapat merasakan aroma rindu yang menguar di udara. Rindu yang belum tersampaikan dari cinta gadis yang menanti kehadiranku di desanya.

Maaf untuk ketidak-hadiranku dan untuk setiap kesalahan yang pernah kuperbuat kepadamu dulu. Aku telah banyak berdosa dan tak lagi pantas hidup di dunia. Semoga satu saat, Tuhan, masih berkenan menghantarkan hadirmu nanti ketika kita bertemu di akhirat sana. Bila akhirnya harus kulewati neraka terlebih dahulu dan menjalani ribuan tahun yang akan menjadi ganjaran perbuatanku kini, kan kulakukan itu. Setidaknya, kan kulakukan itu, untuk permintaan maaf yang belum kuminta darimu kini. Maaf karena telah mengecewakanku.

Dan pada tiga puluh detik selanjutnya, tak lagi bisa kurasakan apa-apa. Hanya kegelapan dan kesunyian yang menyambutku. Aku telah tiada. Tak lagi bisa bercerita apa-apa.